Oleh: Olivia Nita Maria Kelpitna S.Pd, Gr (Guru BK, Kota Ambon)
---Kembali
Kamu pasti pernah mengalami atau melihatnya. Suatu hari di kantin sekolah, seorang teman dengan suara keras menertawakan gaya jalan si A. "Jalan kayak bebek kebelah, bro!" serunya, dan sekelompok anak lain ikut tergelak. Si A memerah telinganya, mencoba ikut tersenyum kecut, tapi matanya menunduk. Atau di media sosial, ada postingan foto si B yang kurang fotogenik, dan di kolom komentar berjejal kata-kata: "Filter mana yang bisa selamatkan ini?" diikuti emoji tertawa menangis. Si pemilik akun akhirnya menghapus fotonya.
Apa yang terjadi di sini? Apakah ini sekadar candaan biasa antara teman? Atau ada sesuatu yang lebih dari itu—sesuatu yang menyakitkan dan meninggalkan bekas? Di dunia kita yang penuh warna, khususnya di Maluku dengan keramahan dan semangat basadaranya, kadang garis antara bercanda dan menyakiti menjadi sangat tipis. Mari kita telusuri bersama.
Dua Sisi Mata Uang yang Sama Sekali Berbeda
Bayangkan canda seperti sebuah permainan bola voli yang seru. Bola (atau lelucon) dilambungkan, dipukul bolak-balik, dan semua pemain di lapangan ikut tertawa, termasuk orang yang menjadi bahan lelucon. Suasana tetap ringan, dan setelah permainan selesai, semua berpelukan dan pergi minum es kelapa muda bersama. Tidak ada yang merasa dikalahkan atau dipermalukan. Ini adalah bercanda sehat. Cirinya? Niatnya untuk tertawa bersama, semua pihak merasa nyaman, dan jika ada yang tidak sengaja tersakiti, permintaan maaf datang tulus dan cepat.
Sekarang, bayangkan "permainan" yang lain. Kali ini, bolanya adalah ejekan. Satu orang dengan sengaja melempar ejekan keras-keras kepada orang yang dianggap tidak bisa membalas. Si penerima ejekan hanya bisa diam, wajahnya memanas, sementara si pelempar dan teman-temannya tertawa puas. Bola itu dilempar lagi dan lagi, setiap hari, dengan variasi yang semakin menyakitkan. Si penerima mulai menghindari kantin, nilai-nilainya turun, dan matanya selalu sembab. Ini bukan lagi permainan. Ini adalah bullying.
Apa bedanya? Pertama, soal kekuatan. Dalam canda sehat, semua setara. Dalam bullying, selalu ada ketimpangan: si pelaku merasa lebih kuat (karena lebih populer, lebih besar, atau berkelompok) dan menggunakan itu untuk mendominasi. Kedua, soal pengulangan. Canda terjadi sesekali. Bullying adalah serangan berulang yang terencana. Ketiga, dan paling penting, soal rasa. Canda meninggalkan senyuman. Bullying meninggalkan luka—luka batin yang sering tak terlihat, tapi lebih dalam dari memar.
Ketika Layar Ponsel Menjadi Medan Perang
Jika dulu bullying berhenti di gerbang sekolah, kini ia bisa menyusup ke kamar tidur kita melalui layar ponsel. Inilah yang disebut cyberbullying, dan sifatnya bahkan lebih kejam. Bayangkan kamu dihina di sekolah. Setidaknya, saat bel pulang berbunyi, kamu bisa lari ke rumah yang aman. Tapi dengan cyberbullying, tidak ada tempat yang aman. Notifikasi penghinaan bisa masuk pukul dua pagi. Foto memalukan bisa disebar ke ratusan orang dalam hitungan menit, dan komentar jahat dari orang asing bisa berderet di kolom postinganmu.
Di Ambon dan Maluku Barat Daya, di mana hubungan kekerabatan sangat erat, dampak cyberbullying bisa lebih parah. Bukan hanya individu yang diserang, tapi sering kali keluarganya atau kampung halamannya ikut menjadi bahan omongan. Sebuah sindiran di media sosial bisa dengan cepat menyulut konflik yang lebih luas, karena dunia digital memperbesar dan mempercepat penyebaran kata-kata beracun.
Kamu Tidak Sendirian: Peta untuk Melawan
Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika menghadapi situasi ini?
Jika kamu merasa menjadi korban:
Pertama-tama, ingat, ini bukan salahmu. Tidak ada alasan apa pun yang membenarkan seseorang menyakitimu. Kamu berhak merasa aman. Cobalah untuk mengatakan "Stop, aku tidak suka ini!" dengan suara tegas dan tatapan mata. Kamu tidak perlu membalas dengan ejekan serupa. Lalu, segera cari pertolongan. Pergi ke ruang guru BK, temui wali kelas, atau ceritakan pada orang tua. Jangan simpan sendiri. Bukti sangat penting, terutama untuk cyberbullying. Jangan hapus pesan, komentar, atau tangkapan layar yang menyakitkan itu. Simpan sebagai bukti. Dan batasi akses media sosialmu untuk sementara. Kamu berkuasa atas akunmu sendiri.
Jika kamu adalah saksi (penonton):
Diam bukan berarti netral. Diam artinya kita membiarkan ketidakadilan terjadi. Kamu punya kekuatan yang besar untuk mengubah situasi. Kamu bisa menjadi "upstander", bukan sekadar penonton. Tindakanmu tidak harus heroik. Kamu bisa mendekati korban setelah kejadian dan berkata, "Aku lihat tadi. Kamu baik-baik saja? Itu tidak adil." Dukungan sederhana ini luar biasa berarti. Atau, kamu bisa mengalihkan percakapan saat bullying terjadi. "Eh, udah ah, gak seru. Tadi gurunya cari kita tuh," bisa menghentikan momentum negatif. Dan yang terpenting, laporkan. Ceritakan pada guru yang kamu percaya. Melaporkan bukan berarti mengadu, tapi bertanggung jawab untuk melindungi temanmu.
Dan jika kamu menyadari pernah menjadi pelaku:
Mengakui kesalahan adalah tanda kekuatan sejati. Berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: "Kenapa aku melakukan ini? Apa yang kudapatkan dengan menyakiti orang lain?" Mungkin awalnya hanya ingin ikut-ikutan atau terlihat lucu, tapi dampaknya nyata. Berani meminta maaf secara langsung dan tulus adalah langkah pertama untuk memperbaiki segalanya. Sebuah permintaan maaf yang jujur bisa menyembuhkan luka dan mengembalikan harmoni, nilai yang sangat kita junjung tinggi di budaya Maluku.
Menutup dengan Semangat Pela Gandong
Saudara-saudariku, pelajar Maluku. Kita mewarisi budaya yang indah: Pela Gandong. Ikatan yang mengajarkan bahwa kita adalah saudara, yang harus saling menjaga, melindungi, dan mengangkat saat yang lain jatuh. Semangat inilah yang harus kita bawa ke setiap sudut sekolah, grup WhatsApp, dan kolom komentar Instagram kita.
Mari kita jadikan sekolah dan dunia online kita sebagai taman yang rindang, tempat semua orang bisa tumbuh tanpa takut dihina atau disakiti. Dimulai dari kita. Dari hal kecil: berpikir sebelum mengirim, berani membela yang lemah, dan memiliki keberanian untuk mengatakan, "Hentikan, ini sudah bukan canda lagi."
Karena di tangan kitalah, masa depan pergaulan yang lebih sehat dan penuh hormat itu dimulai.
---
Catatan untuk Siswa: Ruang bimbingan dan konseling saya selalu terbuka untuk berbicara, bercerita, atau sekadar mencari tempat yang aman. Jangan ragu untuk datang. Kita bisa bicara, dan bersama, kita bisa menemukan solusi.